Langsung ke konten utama

Galas


            Galas namanya, seorang anak laki-laki yang kurang tampan, potongan rambutnya sepundak mirip perempuan, benar-benar lurus tanpa maskulinitas sama sekali. Dia suka dengarkan suara detik jam, seolah itu menuntunnya untuk tetap percaya bahwa akhir tidak selalu membosankan untuk ditunggu.

       Galas masih Galas, saat ini dia sedang duduk antara pukul sembilan dan pukul sepuluh, posisi duduknya terlihat memiliki kemampuan mengganggu siapa saja yang melihatnya, posisi kakinya tidak sempurna, kaki kiri diluruskan agak menyerong ke kanan, kaki kanannya ditekuk keluar hampir membentuk V sempurna. Tangannya terlihat acuh, hanya dibiarkan diam menyentuh lantai, seperti kain pel yang sedang dikeringkan. Matanya melirik, kiri-kanan-kiri-kanan, dia berhenti di kanan, tangannya masih acuh.

     “Galas sang pendamba harimau, mau makan apa ya hari ini, tikus tidak enak, pesing. Kuku-kuku kucing buat Galas saja, mau pergi cakar sofa-sofa tua di seberang jalan. Mau makan apa ya hari ini, tikus tidak enak, pesing …” dia terus bergumam, hampir seperti sedang bersenandung.

     Rumah sedang ramah, debu berkumpul membicarakan rencana masa depan, membuat reuni megah di lantai dapur. Galas masih tetap melirik ke kanan, tangannya melepaskan singgasana keacuhannya, mengambil sesuatu dari sebelah kanan, sudah seharusnya tangan kanan mengambil yang kanan. Debu juga berkumpul di benda itu, membicarakan masa depan yang lebih singkat, hitungan detik, menit, jam atau hari, mungkin mereka menyadari bahwa memilih benda kecil untuk dijadikan tempat pertemuan memiliki konsekwensi fatal. Benda itu pisau, Galas mengusap kedua sisinya. Sudah seharusnya tangan kanan mengurus yang kanan.

     “Cicak gendut juga nikmat hihi, jika ekor putus bisa tumbuh lagi hihi,” Galas membenahi posisi kakinya, M sempurna.

     Pisau adalah benda dingin, kadang seseorang yang membunuh menggunakan benda ini juga diberi julukan pembunuh berdarah dingin. Bukan hanya masalah pisau, ini adalah masalah keterkaitan antara pisau dan emosi, komunikasi antara keduanya, kemudian terjalin jembatan tanpa batas yang meleburkan keduanya menjadi satu arah, satu sifat, satu tujuan, dan rasa akhir yang sama.

      Coba buat tebak cerita, kira-kira apa yang akan terjadi setelah tangan kanan memegang pisau, relaksasi mata sedang berlangsung, mengamati kilau pantulan dari permukannya, siapapun bebas menebak soal pikiran yang sedang tunduk atas relaksasi mata. Galas meluruskan tangan kirinya, menghadap ke atas, tempat cicak gendut bersembunyi. Sudah seharusnya tangan kanan menggerakkan yang kanan.


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jamuan

        Awalnya memang hitam dan putih, tapi kemudian berubah menjadi abu-abu. Kadang kamu berpikir soal kenapa harus bercampur yang hitam dan putih itu. Mungkin memang harus begitu. Atau sesuatu telah menjadi penyebab bercampurnya kedua warna itu. Segalanya memang masih berupa prasangka, prasangka yang kadang membuat pikiranmu berputar 180˚. Entah karena kamu memaksanya untuk berputar sejauh itu ataupun karena memang dia memiliki kehendak juga.        Seseorang di masa lalumu pernah berkata “pikiran itu punya nyawa”. Itu sebabnya orang bilang sulit mengontrol pikiran, ada-ada saja yang jadi bahan fokusnya (pikiran) itu. Ketika tidur biasanya juga menjadi sulit. Pikiran selalu tidak mau mengalah tidur duluan. Selalu harus mata yang mengawalinya. Kamu mulai berpikir soal sang mata sekarang.        Kenapa mata harus mengalah tidur duluan. Apakah mata lebih santun daripada pikiran. Siapa yang mengajarkannya untuk santun seperti it...

Jarak

            Ibu memarahimu kemarin, sampai sekarang kamu masih marah sedangkan aku sibuk membersihkan rumah, karena merajuk kamu enggan membantu pekerjaan rumah. Sebenarnya aku sangat tidak menyukai tingkahmu yang semacam itu, kekanakan sekali.             Hari ini pun aku yang membersihkan rumah, semuanya. Karena ibu sedang sakit jadi beliau hanya dapat berbaring di tempat tidur dan melakukan gerakan-gerakan ringan seperti duduk, mengambil teh di meja samping ranjang, menjatuhkan sendok, dan hal lainnya yang kulupa.             Di sela pekerjaanku yang melelahkan, aku ingin menatap wajahmu sebentar untuk bertanya. Kuketuk pintu kamarmu, tidak ada jawaban, kupikir kamu juga marah padaku karena aku kesayangan ibu jadi aku putuskan untuk masuk saja tanpa perlu izinmu. Kamarmu gelap, kamarmu memang minim fentila...