Langsung ke konten utama

Postingan

Galas

             G alas namanya, seorang anak laki-laki yang kurang tampan, potongan rambutnya sepundak mirip perempuan, benar-benar lurus tanpa maskulinitas sama sekali. Dia suka dengarkan suara detik jam, seolah itu menuntunnya untuk tetap percaya bahwa akhir tidak selalu membosankan untuk ditunggu.        Galas masih Galas, saat ini dia sedang duduk antara pukul sembilan dan pukul sepuluh, posisi duduknya terlihat memiliki kemampuan mengganggu siapa saja yang melihatnya, posisi kakinya tidak sempurna, kaki kiri diluruskan agak menyerong ke kanan, kaki kanannya ditekuk keluar hampir membentuk V sempurna. Tangannya terlihat acuh, hanya dibiarkan diam menyentuh lantai, seperti kain pel yang sedang dikeringkan. Matanya melirik, kiri-kanan-kiri-kanan, dia berhenti di kanan, tangannya masih acuh.       “Galas sang pendamba harimau, mau makan apa ya hari ini, tikus tidak enak, pesing. Kuku-kuku kucing buat Galas saja, mau pe...
Postingan terbaru

Jamuan

        Awalnya memang hitam dan putih, tapi kemudian berubah menjadi abu-abu. Kadang kamu berpikir soal kenapa harus bercampur yang hitam dan putih itu. Mungkin memang harus begitu. Atau sesuatu telah menjadi penyebab bercampurnya kedua warna itu. Segalanya memang masih berupa prasangka, prasangka yang kadang membuat pikiranmu berputar 180˚. Entah karena kamu memaksanya untuk berputar sejauh itu ataupun karena memang dia memiliki kehendak juga.        Seseorang di masa lalumu pernah berkata “pikiran itu punya nyawa”. Itu sebabnya orang bilang sulit mengontrol pikiran, ada-ada saja yang jadi bahan fokusnya (pikiran) itu. Ketika tidur biasanya juga menjadi sulit. Pikiran selalu tidak mau mengalah tidur duluan. Selalu harus mata yang mengawalinya. Kamu mulai berpikir soal sang mata sekarang.        Kenapa mata harus mengalah tidur duluan. Apakah mata lebih santun daripada pikiran. Siapa yang mengajarkannya untuk santun seperti it...

Lera

            Lera. Bukan lembayung senja yang kemerah-merahan. Aku hanya sebatas lentera yang urup-urup temaram. Sangkaku, aku tiada pantas menggapai bohlam yang modern sepertimu. Namun aku salah. Kau memang bohlam. Tapi mungkin bohlam dalam negeri. Kau tertinggal jauh dari kawananmu yang sudah mengepakkan sayapnya cepat-cepat menuju arah tenggelamnya mentari. Iya, Barat.              Kau bukan mereka. Mereka berlarian mengejar senja, kau hanya diam memapah kata. Kau bukan mereka. Mereka menarik harap kuat-kuat, kau malah terbang melayang bersama harapmu itu. Kau tak pernah memaksa. Hidupmu adalah selendang sutera yang terus lolos dari amarahmu. Sekalinya, kataku. Jikalau kau marah. Akan bagaimanakah sutera itu nanti. Terbakar habis ataukah menyisakan rusak yang buruk rupa. Lekas kututup pikiranku yang sedang mengandaimu bertarung dengan amarahmu.                    ...

Jarak

            Ibu memarahimu kemarin, sampai sekarang kamu masih marah sedangkan aku sibuk membersihkan rumah, karena merajuk kamu enggan membantu pekerjaan rumah. Sebenarnya aku sangat tidak menyukai tingkahmu yang semacam itu, kekanakan sekali.             Hari ini pun aku yang membersihkan rumah, semuanya. Karena ibu sedang sakit jadi beliau hanya dapat berbaring di tempat tidur dan melakukan gerakan-gerakan ringan seperti duduk, mengambil teh di meja samping ranjang, menjatuhkan sendok, dan hal lainnya yang kulupa.             Di sela pekerjaanku yang melelahkan, aku ingin menatap wajahmu sebentar untuk bertanya. Kuketuk pintu kamarmu, tidak ada jawaban, kupikir kamu juga marah padaku karena aku kesayangan ibu jadi aku putuskan untuk masuk saja tanpa perlu izinmu. Kamarmu gelap, kamarmu memang minim fentila...