Langsung ke konten utama

Jarak




            Ibu memarahimu kemarin, sampai sekarang kamu masih marah sedangkan aku sibuk membersihkan rumah, karena merajuk kamu enggan membantu pekerjaan rumah. Sebenarnya aku sangat tidak menyukai tingkahmu yang semacam itu, kekanakan sekali.

            Hari ini pun aku yang membersihkan rumah, semuanya. Karena ibu sedang sakit jadi beliau hanya dapat berbaring di tempat tidur dan melakukan gerakan-gerakan ringan seperti duduk, mengambil teh di meja samping ranjang, menjatuhkan sendok, dan hal lainnya yang kulupa.

            Di sela pekerjaanku yang melelahkan, aku ingin menatap wajahmu sebentar untuk bertanya. Kuketuk pintu kamarmu, tidak ada jawaban, kupikir kamu juga marah padaku karena aku kesayangan ibu jadi aku putuskan untuk masuk saja tanpa perlu izinmu. Kamarmu gelap, kamarmu memang minim fentilasi. Tak ada satu pun jendela di kamarmu, kamu hanya memiliki gadget untuk bernafas dari rasa bosan, gadgetmu pun tak lebih bagus dari milikku. Aku meraba ranjangmu, kamu tidak ada di sana. Aku berjalan ke arah meja belajarmu, kurasa barang-barangmu berantakan. Kamarmu kosong, aku keluar karena terlalu pengap.

            Tidak ada yang pernah ingin hidup sengsara. Semua orang ingin bahagia bahkan sangat bahagia, selalu. Namun bagaimana jika aku dan kamu adalah dua takdir berbeda yang pernah menetap di dalam rahim yang sama. Kamu mungkin akan menolak diposisikan sebagai kamu, dan menginginkan diposisikan sebagai aku. Karena kamu rasa posisi seorang aku adalah sebuah bahagia, meskipun nyatanya tidak senyata rasa-rasamu itu.

            “Reksa ...”

            Aku datang cepat tanpa menjawab.

            “Mana dia?”

            “Pergi.”

            “Kabur dari rumah lagi?” kudengar suara giginya mulai menggeretak.

            Bayangannya perlahan melintasi bayanganku, menuju muka rumah. Aku masih belum berani menatapnya, punggungnya pun tak sanggup. Aku memilih mengumpat inginku untuk kemudian membacakannya kepada wajah-wajah sore yang kesepian.

            Ranting kayu yang sudah mulai rapuh digerogoti rayap. Pasir putih yang tak gemerlap. Senja yang masih malu-malu. Kulelapkan aku dalam dingin lautan. Berapa lama aku lelap dengan amat dalam, aku lupa saja. Karena aku tahu, setelah aku membuka mata maka kamulah yang akan tampak sebagai mentari gelapku.

            Membawamu pulang adalah celaka, jalan penuh bahaya. Namun aku masih mau melakukannya untuk sekedar menikmati drama yang terus terulang namun selalu serasa seperti pertama kali mencoba. Aku berhasil membawamu pulang lagi sore itu. Tepat saat gelap menidurkan terang dunia.

            Pulang denganmu kadang menyenangkan, kita bernyanyi di sepanjang jalan. Aku percaya pada kekuatan suara, suara bisa membuat orang menjadi sakit, linglung, histeris, tapi juga bisa membuat orang gembira, senang, bahkan juga bisa menyembuhkan penyakit. Seindah itu, sedalam itu, semudah memandang wajahmu. Namun sengeri membawamu pulang.

            “Kami pulang!”

            Rumah hening. Kamu melangkah mendekati kamar ibu, mengetuknya perlahan kemudian masuk seolah terburu oleh nafsu mata untuk cepat memandangnya. Keberanianku satu-persatu terbunuh waktu, hanya ada detak jarum jam melingkupi keheningan yang tak biasa ini. Kamu muncul juga, tanpa bicara kamu berjalan melewatiku menuju muka rumah.

            “Dia kabur lagi.” Kamu sendu.

            “Apa maksudnya?”

            Tak lama kemudian, mobil ambulance datang. Membawa serta merta ibu. Kamu masih terlihat sendu, aku mendekati dan memelukmu. Tangismu pecah.

            “Bukahkah sudah biasa begini?”

            Kamu melepaskan pelukku, menatapku sayu, “Kali ini jantungnya berhenti.”

            “Apa dia telah mati?”

            Wajahku menengadah. pandangku menjelajah. Membendung lautan air mata yang mulai pasang.

            Benar saja. Wajahnya sudah putih pucat. Tak terdengar lagi suara giginya menggeretak. Kamu menciumi wajahnya dengan amarah, membisikkan lagu kematian dengan penuh lelucon. Kamu lagi-lagi menuju muka rumah tanpa bicara. Kali ini aku menyusul langkahmu, belum sempat aku berhasil membalikkan tubuhmu menghadapku, kamu sudah berlari keluar cepat sekali. Kamu berputar-putar. Tangismu berubah menjadi tertawaan kemudian cercaan terhadap Tuhan. Kamu bilang kamu ingin pergi ke awan untuk menghancurkan kehidupan. Kamu terus saja berlarian dan berputar-putar. Tenagaku habis mengejarmu, maka setelahnya tatapanku saja yang mengejarmu. Meskipun terbatas dan pada akhirnya kamu mengabur dalam kejauhan.

            Sepekan lebih tiga hari, kamu belum juga kembali. Aku sudah tenggelam berkali-kali tiap senja hari, namun bukan kamu yang kulihat saat aku membuka mata. Rumah sudah banyak berubah, lengkungan waktu menyamakan jarak kita. Semakin melengkung jauh. Kamu dan aku.

            Aku berpikir soal bagaimana aku akan menjadi sebatang kara dan mendapat banyak kasihan dari orang-orang. Hari ini juga, seorang wanita paruh baya meletakkan sepiring nasi tepat di depan daun pintu. Mereka mungkin tahu jika aku belum keluar rumah selama tiga hari. Atau mereka berpikir jika aku sudah mati. Atau mereka berkhayal soal permintaanku untuk dikasihani setiap harinya. Aku tidak tahu. Maka setiap aku membuka pintu, aku langsung melemparkan piring itu jauh-jauh.

Hari ini aku akan mencari uang dan mendapatkan makananku sendiri. Mantel hitam dengan tutup kepala yang senada, aku mengayuh sepeda mendobrak keramaian pagi sambil sesekali bernyanyi lagu pulang denganmu. Sebuah kafe bertuliskan “Dark Cafe” berhasil menarikku untuk mampir dan masuk ke dalamnya, aku merasa aku akan bisa bekerja di sini. Beberapa pertanyaan diajukan untukku sebagai syarat pertama untuk dapat memperoleh pekerjaan di sini, semua aku jawab dengan lancar tanpa tersendat. Aku diterima hari itu juga, sebagai pembaca puisi.

Bukan bohong ...
Atau bahkan sebutir biji tanaman
Mengeluh soal kehidupan
Semua juga mau makan

Berikut sajak “Cengkrama Kehidupan” yang menjadi sajak pembuka pundi-pundi uangku, kemudian kulanjutkan dengan sajak “Ranjau Rindu”.

Tidak pernah bohong!
Kekasihku juga hendak aku pulang
Untuk menggerayangi kantungku
Memeras uangku
Tapi apa daya, aku telah rindu

Membacakannya seolah-olah kamu ada di antara para pengunjung membuatku berekspresi liar dan ganas, air mataku bercucuran seolah akulah sang pengemban cinta yang besar kepada kekasihku dengan penuh penyerahan. Hari ini berakhir baik, aku bisa makan dan kembali hidup.

Hari-hari yang berlangsung dengan terus membacakan sajak membuatku ingin lebih, lebih daripada sesuatu yang biasa. Aku ingin bersinar dengan sajakku, bukan lagi sekedar persoalan makan dan mengharapkan seorang kamu. Maka aku putuskan untuk benar-benar meghidupkan sajak-sajakku.

5 tahun telah berlalu, aku sudah menjadi seperti apa yang aku inginkan dulu. Seseorang yang bersinar dengan sajaknya. Malam ini juga, di panggung kenamaan penuh gemerlap lampu warna-warni, sebuah sajak akan aku nyanyikan kepada dunia. Mengambil sepotong aroma baju ibu. Sepertiga kenangan senja denganmu. Aku membuatnya untuk sajak malam ini. Aku memberikannya nama “Jarak”. Sebagai pembuka, aku membacakan “Bernafas kepada Tuhan”.

Bukan keterikatan kalau tidak sakit
Bukan pelepasan kalau tidak rindu
Peluklah dan damailah dalam nafas Tuhanmu
Berbaringlah dengan damai tanpa harus memikirkan ajalku
Semua ada perhitungannya

Selesai begitu, aku melanjutkan kepada sajak yang benar-benar ingin aku perdengarkan padamu. Lagi-lagi jika kamu ada di antara mereka.

Dia dan mereka
Yang pergi tanpa pamit kepadaku
Mau jadi apa?
Kehilangan dua adalah aku
Berharap bersua adalah aku
Aku, Reksa
Anaknya dan saudaramu
Kamu!
Tidakkah ingin menjadikan aku rumah?
Tidakkah ingin pulang?
Jarakmu adalah penjagaan terhadap darahku
Mendekatlah agar hidupku tiada berakhir pilu
Mendekatlah ...

Tatapanku melepaskan emosi, selepasnya aku menunduk dalam-dalam. Lama, bagai tenggelam di lautan. Menantikanmu menyambung hidupku.

Luas lautan adalah hidup ...” suara itu menggugah desir darahku.

Maka aku datangi ia untuk menghidupkan mereka yang ingin melepas nyawa di pusara kehidupan ...” lanjutnya.

Aku meluruskan pandanganku, tegak dan terarah pada sosok wanita dengan pakaian serba putih. Kulit putih pucat. Itu kamu.

Tidakkah kamu ingin tahu sebait kisahku?

Aku tak melepas sosokmu, untuk kemudian memaksamu berbicara dengan sajakku yang penuh emosi. Kamu membalasnya, “Sudah diterka ... aku ingin rindu.”

Jika rindu, pulanglah.

Kamu mendekat menuju aku. Menciumi tanganku. Kemudian lelap dalam dekapku, seolah ingin tidur dengan amat lama. Para penonton riuh oleh haru. Aku membalas applause publik yang gempita. Kulihat, kamu mengulum senyum.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Galas

             G alas namanya, seorang anak laki-laki yang kurang tampan, potongan rambutnya sepundak mirip perempuan, benar-benar lurus tanpa maskulinitas sama sekali. Dia suka dengarkan suara detik jam, seolah itu menuntunnya untuk tetap percaya bahwa akhir tidak selalu membosankan untuk ditunggu.        Galas masih Galas, saat ini dia sedang duduk antara pukul sembilan dan pukul sepuluh, posisi duduknya terlihat memiliki kemampuan mengganggu siapa saja yang melihatnya, posisi kakinya tidak sempurna, kaki kiri diluruskan agak menyerong ke kanan, kaki kanannya ditekuk keluar hampir membentuk V sempurna. Tangannya terlihat acuh, hanya dibiarkan diam menyentuh lantai, seperti kain pel yang sedang dikeringkan. Matanya melirik, kiri-kanan-kiri-kanan, dia berhenti di kanan, tangannya masih acuh.       “Galas sang pendamba harimau, mau makan apa ya hari ini, tikus tidak enak, pesing. Kuku-kuku kucing buat Galas saja, mau pe...

Jamuan

        Awalnya memang hitam dan putih, tapi kemudian berubah menjadi abu-abu. Kadang kamu berpikir soal kenapa harus bercampur yang hitam dan putih itu. Mungkin memang harus begitu. Atau sesuatu telah menjadi penyebab bercampurnya kedua warna itu. Segalanya memang masih berupa prasangka, prasangka yang kadang membuat pikiranmu berputar 180˚. Entah karena kamu memaksanya untuk berputar sejauh itu ataupun karena memang dia memiliki kehendak juga.        Seseorang di masa lalumu pernah berkata “pikiran itu punya nyawa”. Itu sebabnya orang bilang sulit mengontrol pikiran, ada-ada saja yang jadi bahan fokusnya (pikiran) itu. Ketika tidur biasanya juga menjadi sulit. Pikiran selalu tidak mau mengalah tidur duluan. Selalu harus mata yang mengawalinya. Kamu mulai berpikir soal sang mata sekarang.        Kenapa mata harus mengalah tidur duluan. Apakah mata lebih santun daripada pikiran. Siapa yang mengajarkannya untuk santun seperti it...