Awalnya memang hitam dan putih, tapi kemudian berubah menjadi abu-abu. Kadang kamu berpikir soal kenapa harus bercampur yang hitam dan putih itu. Mungkin memang harus begitu. Atau sesuatu telah menjadi penyebab bercampurnya kedua warna itu. Segalanya memang masih berupa prasangka, prasangka yang kadang membuat pikiranmu berputar 180˚. Entah karena kamu memaksanya untuk berputar sejauh itu ataupun karena memang dia memiliki kehendak juga.
Seseorang di masa lalumu pernah berkata “pikiran itu punya nyawa”. Itu sebabnya orang bilang sulit mengontrol pikiran, ada-ada saja yang jadi bahan fokusnya (pikiran) itu. Ketika tidur biasanya juga menjadi sulit. Pikiran selalu tidak mau mengalah tidur duluan. Selalu harus mata yang mengawalinya. Kamu mulai berpikir soal sang mata sekarang.
Kenapa mata harus mengalah tidur duluan. Apakah mata lebih santun daripada pikiran. Siapa yang mengajarkannya untuk santun seperti itu, berkedip lambat kemudian memejam damai. Tapi apakah kenyataannya memang sesingkat itu. Mungkin saja sang pikiran punya alasan. Kamu masih saja memaksa pikiranmu untuk menemukan alasan bagusnya.
Terdengar suara bising di depan rumahmu. Pikiranmu berlari bubar. Kamu berjalan menuju muka rumah sambil mengenakan tutup kepala cepat-cepat. Ibu menyusul dari dapur. Tangannya masih memegang sutil yang ujungnya berminyak. Bekas menggoreng apakah itu, kamu berpikir.
“Ada apa?” tanya ibu padamu.
Kamu menggeleng.
Kamu dan ibu berjalan bersamaan. Dengan cekatan ibu menyapu teras rumah, kamu mengikuti ibu. Pura-pura sibuk ceritanya, supaya tidak dikira menguping. Beberapa meter dari teras rumah ada beberapa wanita paruh baya. Mereka berkumpul sambil berbincang agak keras, kamu melihat posisi mereka hampir membentuk lingkaran sempurna. Luar biasa. Ibu menyenggol kakimu, matanya berkedip-kedip memberi sinyal untuk kamu mendekat padanya. Kamu beralih jongkok dan mendekatkan kupingmu kepada ibu.
“Dengar tidak?” tanya ibu.
Kamu mengangguk.
“Anaknya Bu asih mau dijodohkan …” Ibu memulainya.
Dengan anak Pak Malih yang kaya, itu Bu Asih sedang memamerkan nasib anaknya,” lanjut ibu.
Mata ibu kembali fokus mendengarkan percakapan para wanita paruh baya itu. Kenapa mata juga harus melihat ketika kuping sedang mendengar, kamu jadi menganggap mata yang sedang mendengar. Apa mata memang senang mengambil alih tugas indera lainnya. Apakah dia licik. Ibu terlihat tidak tahan, dia meletakkan sapunya dan bercampur dengan mereka. Kamu menggantikan ibu menyapu, sambil sesekali mengawasi ibu supaya jangan terlibat macam-macam.
Itu terdengar menyenangkan jika ada warga lingkunganmu yang akan menikah. Akan ada pesta dan kamu jadi punya kesempatan untuk sendirian di rumah. Mungkin kamu akan merencanakan agenda kesendirianmu di rumah. Setelah berada di lingkaran itu hampir 5 menit, ibu berjalan menjauhinya. Menuju pada kamu yang berdiri menyambutnya dengan sinar mata yang tidak cerlang. Ibu menarik tanganmu agak kuat, sapunya jatuh dari tanganmu. Entah sapunya yang tidak ingin ikut dibawa ibu atau kamu yang terlalu ingin menjauhkannya dari masalah.
Ibu membawamu ke taman belakang, menyuruhmu duduk dengan posisi ternyaman. Kamu menuruti. Beberapa potong badan pohon tua. Kamu memilih mereka sebagai kandidat tempat duduk. Badan pohon pertama berusia 104 tahun. Badan pohon kedua berusia 89 tahun. Badan pohon ketiga separuh usia dari badan pohon pertama. Badan pohon keempat berusia persis seperti usiamu. Kamu pilih yang persis denganmu, kamu duduki dia pelan-pelan. Kamu menaikkan kakimu, mengambil posisi bersila. Lebih indah lagi jika duduk bersama seseorang di masa lalu. Bersila sambil menunggu masakan matang.
“Mereka bilang suruh ikut dalam jamuan makan malam,” kata ibu sambil menggenggam tanganmu.
Kamu memiringkan kepalamu.
Ibu masuk ke dalam rumah, kemudian kembali ke tempatmu. Dia membawa sesuatu di tangannya. Sinar matamu yang tidak cerlang menyambutnya lagi. Diberikannya sesuatu itu padamu. Itu tampak seperti kertas usang yang diikat tali murahan. Bisa dilihat dari talinya sudah mulai rapuh.
“Baca ini.”
Kamu melepaskan talinya. Mengusap kertasnya dengan kainmu. Membukanya perlahan. Kamu balikkan kertas itu menghadap kepada ibu.
“Derai, kini usiamu bukan lagi 21 tahun. Kamu sudah tidak mampu berjalan menggunakan sepatu tinggi untuk bisa mencuri perhatian orang. Kamu sudah bukan seorang dewasa berusia 28 tahun. Tidak akan ada pemaksaan untukmu, seperti dahulu ketika keluargamu memaksamu untuk cepat menikah. Kamu bukan lagi wanita berusia setengah abad yang masih bisa berbincang seru dengan wanita setengan abad lainnya di pesta. Derai, jika kamu membaca ini. Kamu pasti mengerti.”
Kamu melipat kertas itu kembali. Mengikatnya dengan tali murahan. Memberikannya pada ibu. Kamu pergi dari sana, menjauhi pohon tua yang kamu duduki. Berjalan menuju pohon yang berusia 104 tahun, kamu menepuk-nepuk pohon itu. Kamu ingin berbisik. Menceritakan padanya bahwa usia adalah sesuatu yang paling bisa membuatmu berubah, berubah menyesali usia yang telah berlalu. Tangga usia itu sesuatu yang rahasia. Tidak ada yang pernah tahu puncak penyesalan itu akan terjadi di usia yang ke berapa.
Puncak penyesalan adalah patah hati atas diri sendiri. Tidak bisa menuduh. Membanting amarah. Apalagi menangis dan membasahi bantal. Matamu yang sudah tidak cerlang, kamu tidak lagi membutuhkan pesta untuk senang-senang. Kepalamu yang sudah berkain, kamu juga tida lagi bisa menunjukkan rambutmu yang dihias ketika berjalan di antara tamu undangan. Kamu hanya akan diundang pada malam hari, di saat pesta belum dimulai. Dituntun oleh anakmu yang seperti orang tuamu. Kamu menjadi anak-anak yang manja, disuapi oleh tangan yang muda.
Benar, “pikiran itu punya nyawa”. Dia terus melesat ke mana-mana. Menangkapi ingatanmu yang melarikan diri. Dia jadi tahu jika kamu enggan mengikuti jamuan makan malam itu. Maka dia putarkan rekaman wajah. Wajah seseorang yang berkata “pikiran itu punya nyawa”. Kamu diam sesaat ketika rekaman wajah itu diputarkan. Kemudian kamu berbalik menatap ibu. Mengangguk. Maka pergilah kamu bersama ibu ke jamuan makan malam itu.

Komentar
Posting Komentar