Langsung ke konten utama

Lera


            Lera. Bukan lembayung senja yang kemerah-merahan. Aku hanya sebatas lentera yang urup-urup temaram. Sangkaku, aku tiada pantas menggapai bohlam yang modern sepertimu. Namun aku salah. Kau memang bohlam. Tapi mungkin bohlam dalam negeri. Kau tertinggal jauh dari kawananmu yang sudah mengepakkan sayapnya cepat-cepat menuju arah tenggelamnya mentari. Iya, Barat.

            Kau bukan mereka. Mereka berlarian mengejar senja, kau hanya diam memapah kata. Kau bukan mereka. Mereka menarik harap kuat-kuat, kau malah terbang melayang bersama harapmu itu. Kau tak pernah memaksa. Hidupmu adalah selendang sutera yang terus lolos dari amarahmu. Sekalinya, kataku. Jikalau kau marah. Akan bagaimanakah sutera itu nanti. Terbakar habis ataukah menyisakan rusak yang buruk rupa. Lekas kututup pikiranku yang sedang mengandaimu bertarung dengan amarahmu.

                                                                                   ***

            Malam sekali aku pulang, dikala hujan sedang mencumbu kota. Membisikinya dengan gemuruh maha romantis. Dan menyelimutinya dengan mendung yang bergumpal-gumpal gelap hangat. Dunia menutup matanya, malu. Menyaksikannya. Ah, kapan aku. Kapan aku boleh cemburu.
           
            “Baru pulang?” tanya mas Budi.

            “Iya, Mas,” aku berlalu.

 Ia tetanggaku yang juga teman kecilku. Hanya saja ketika sudah beranjak dewasa kami jadi tidak terlalu akrab lagi. Mungkin karena lawan jenis. Kami juga terpisah semenjak lulus dari SMA. Dia pergi melanjutkan studinya ke Paris. Sedang aku, di sini sajalah aku.

            Kupandangi kubus batubata itu, itu rumah yang terlihat ragu. Kenapa. Apa karena aku datang sendirian lagi. Aku tahu, aku juga sudah berusaha dengan baik hari ini. Aku ingin mengatakan jika aku pantas mengetuk pintumu lagi. Gemerincing kunci yang kugelangkan memberikanku tatapan kosong. Tak berkerlip lagi mereka. Aku tak mengugu. Kumasukkan salah satu dari mereka ke lubang kunci rumah itu, kuputarkan ia searah jarum jam. Hingga berhasil terbuka. Kulemparkan juga mereka setelahnya. Haha, tawaku tertahan. Bodoh, kenapa lagi-lagi aku melakukannya.

            Hangat badanku sudah. Duduk aku di sudut dipan, mengolesi krim pada wajahku. Pantulan cermin memotong dialogku, kulihat di sana. Sesosok gadis muda bergaun merah menatapku. Itu aku, ya. Cantik juga rupanya. Haha, lagi-lagi tawaku tertahan.

            Lekas tidur aku malam itu. Hujan belum juga menyudahi cumbuannya. Dan bibir kota enggan juga menggamit ocehan buat mengingatkannya.  Lupakah kalian jika aku seorang yang sendirian.

            “Tok...tokk ... tok...” pintuku terketuk.

            Kutatap. Berjalan perlahan aku menujunya. Kuintip. Leona rupanya.

            “Lera ...”

            Cepat kubukakan pintu untuknya, sengaja aku mengacuhkan lirikan sombong gemerincing kunci itu. Aku sedang membutuhkannya. Sesekali balas sombong boleh juga.

            Masuk ia ke dalam, matanya sembab. Lembab. Apa. Lepas menangiskah ia. Kutepuk pundaknya, ia tak merasa cukup. Ditubruknya tubuhku, dipeluknya aku erat-erat. Menangis di sana sampai basah kain pada bahu kiriku. Baiklah kurasa aku baik-baik saja begini untuk sementara waktu.

            Hujan sudah melepas cumbuannya, mungkin dia sudah bosan mengabdi pada kota ini. Berpindah ke kota lain, mungkin saja. Hujan memang tidak pernah setia. Leona, dia masih tenggelam dalam isaknya.

            “Begitukah semua pria,” dia membuka cerita.

            “Mungkin.”

            “Mengapa?” tangannya memegangiku.

            Entahlah, mungkin karena gadis-gadis sepertimu.”

            Pupilnya membesar. Tanda ia hendak tau maksudku. Aku beralih darinya, kurasa tubuhnya mesti dihangatkan. Karena aku tak bisa mengurus sesuatu yang ada pada hatinya, aku akan coba mengurus badannya. Kuambilkan handuk dan piyama berwarna biru redup. Redup. Karena lampu rumahku redup. Harusnya ini biru terang jika aku mau menyisihkan sedikit waktu untuk pergi membayar uang listrik.

            “Pakai ini.”

            “Tidak mau,” ucapnya bersungut-sungut.

            “Ya sudah, biar saja.”

            Aku pergi menuju kamar, menutupnya. Hening saja adanya. Beberapa menit lamanya, aku tiada mampu tertidur. Kertas pikiranku melayang dan berlabuh pada genangan air mata di wajah Leona. “Lera ...” suaranya lirih terdengar dari balik pintu kamar. Aku pura-pura tidur. “Dia bilang mau jemput,” lanjutnya.

            “Bedebah,” kubuka pintu. Kutarik ia ke dalam. “Tolong. Jangan gila. Minimal tidak di depanku.”

            “Aku mencintainya,” suara Leona melemah.

            “Tidur saja. Tolong.”

            “Bisakah kau mengerti alur percintaan?” tanyanya dalam.

            “Lalu mengapa kau pergi ke sini? Ke rumah seorang yang bodoh soal percintaan?” aku melempar pandangku ke arah cermin. Menatap kecanggungan.

            “Aku tidak tahu.”

            “Pulanglah saja.”

            Leona mengamini ucapanku. Ia taruh handuk beserta piyama yang kuberikan tadi. Berjalan ia keluar kamar. Menuju pintu utama. Berjalan saja aku di belakangnya, menatap bekas tapak kakinya yang basah keriput kehujanan di lantai. Manusiawi kah aku begini. Kadang sulit bagiku menenentukan kapan aku pantas berlaku baik ataupun sebaliknya. Mungkin saja sumpah-serapah gemerincing kunci itu menyelubungi takdirku. Entahlah aku tak mau tahu.

            “Dia akan datang sebentar lagi,” Leona menoleh memandang jauh ke ujung jalan.

            Aku enggan membuka suara. Leona adalah teman seangkatanku di bangku perkuliahan, aku mengenalnya. Gadis lugu ini pasti akan mengakhiri kisah dengan cara yang sama.

                                                                                ***

            Pagi yang cerah dengan alunan suara merdu kicau burung. Merambat dari getar angin menuju gendang telingaku, sungguh aku merasa rela mendengarkannya. Duduk aku di kursi goyang samping rumah, mencoba bersahabat dengan kesendirian lepas semalam badai mengguncang desir darahku. Kisah monoton yang selalu terulang setiap beberapa pekan sekali. Leona dan kekasih hujannya itu. Selalu saja ketika hujan.
           
            “Mbak, kemarin mas-mas yang berkunjung ke rumah sampeyan minta kopi tubruk saya buat dipakai hangatkan badan,” ucap seorang pria dengan kacamata bulat yang tiba-tiba menyembul dari balik pagar samping.
           
            Terkejut aku. Namun segera kurapikan ekspresi wajahku. Berjalan aku mendekatinya, ia tak terlihat canggung sama sekali seolah siap bertatap mata denganku. “Oh, lalu bagaimana?” tanyaku.

            “Ya diganti tho Mbak.”

            “Baiklah, saya ambilkan dulu.”

            Belum sempat aku balik badan, lekas ia bicara “Bukan.”

            “Lalu bagaimana?”

            “Ngopi bareng. Mau sampeyan?”

            “Ngo..pi?” tanyaku mengulangi.

            He’eh, gelem ra?”

            Gelem ra?”

            “Mau endak? Gitu.”

            “Mau.”

Eh, jawab apa aku barusan. Haha, tawaku tertahan.

Tak tunggu di halaman belakang yo Mbak, jam tiga,” ucapnya. “Mbak kopinya, saya gulanya,” tambahnya.

“Apa?” kurasakan bunga mulai bermekaran dalam hati merahku. Menjalar ke perut. Bertaburan. Kukira dia mahir merayu.

“Bukan, Mbak. Maksudnya, mbak yang bawa kopi nah saya yang menyediakan gulanya. Nanti kita buat sama-sama,” jelasnya.

“Oh.”

Eh, berpikir apa aku barusan. Haha, tawaku tertahan.

Berlalu perbicangan kami sudah. Waktuku kuhabiskan menghitung detik demi detik menanti pukul tiga. Ini pertama kalinya ada manusia lain yang datang mengajak minum kopi bersama. Hampir semua sudah kupersiapkan, gaun sore bercorak daun mapple dengan sepatu taman berwarna cokelat terang. Kukepang rambutku ke samping dengan helai poni panjang yang menggantung sebagai penghiasnya.

Pukul tiga tepat. Segera kubawa nampan berisi mangkuk yang terisi penuh oleh kopi hitam yang berbau sedap menuju rumahnya. Kumasuki halaman depan rumahnya yang tidak berpagar, berjalan terus melewati halaman samping. Pandangku menjelajah, mewah sekali rumah ini. Kaca-kaca jendela yang mengkilap dengan anggunnya itu hampir mengunci pandangku. Terus berjalan aku hingga kutemui halaman yang sangat luas lagi hijau. Pohon-pohon berdiri tegak bak pelayan-pelayan alam yang berkharisma. Aku sudah tiba di halaman belakang.

“Cari siapa, Nona?”

Kedatangannya mengagetkanku. wanita muda berkemeja kuning keemasan dengan rok berenda hitam berdiri tepat di sebelahku. Hidungnya lancip sekali, dengan mata yang berkelopak dalam, beralis tipis. Bule kah ia.

“Saya diundang oleh pria berkacamata bulat untuk minum kopi di sini,” jawabku.

“Oh, Kemal. Dia sudah menunggu Nona di sana,” tunjuknya. Kulihat pria berkacamata bulat itu duduk tenang di bawah pohon yang paling besar dan paling lebat daunnya.

“Terimakasih.”

Aku pergi menghampirinya. “Tuk...” bola kecil menyentuh sepatuku. “Give it to me, please.” Pinta seorang anak kecil padaku. Lagi-lagi berwajah bule. Kuberikan bola itu padanya tanpa berkata sepatah katapun. Kulanjutkan langkahku menghampirinya. Pria berkacamata bulat itu berdiri menyambutku. Ia kembangkan senyumnya. Mempersilakanku duduk.

“Itu ...” ucapku tersendat ragu.

“Iya, itu.”

“Kau tau maksud saya?”

“Ya,” jawabnya tanpa melihat ke arahku. Tangannya sibuk menyendokkan gula dan kopi ke dalam cangkir.

“Jelaskan pada saya.”

“Apanya? Semuanya sangat jelas,” tanpa melihatku lagi. Sekarang tangannya sibuk menuangkan air panas ke dalam cangkir.

“Kenapa sekarang tidak medok?” tanyaku.

“Karena mengundang. Saya mau mengundang Nona. Nona suka medok.”

“Tahu apa kau tentang saya?” tanyaku lagi.

“Banyak.”

Ditatapnya aku lekat-lekat. “Nona suka duduk tanpa menutup tirai jendela sampng, menonton tv. Saya lihat acara kesukaan Nona. Nona tertawa melihat itu. Karena medok, bukan?” ucapnya.

“Kau mengintip?”

“Tentu tidak.”

“Lalu yang cerita tadi itu apa?”

“Jalan.”

“Apa maksudnya?”

“Jalan menuju Nona, untuk mengenal Nona. Saya punya hak untuk berjalan ke sana. Apa Nona enggan saya jalan ke sana?”

“Saya tidak tahu.”

“Jika wanita berkata ‘tidak tahu’ itu berarti ia memperbolehkan.”

“Sok tahu sekali kau,” tawaku tertahan.

Ia tersenyum. “Mari minum.”

Sepasang mata mengawasi kami dari kejauhan. Pria berkacamata bulat bilang itu ibunya. Maka aku menunduk memberikan salam padanya. Ia tersenyum. “Apa boleh begini?” tanyaku pada pria berkacamata bulat itu.

“Boleh.”

“Tapi aku ...”

“Aku tahu.”

“Kan harusnya aku ...”

“Aku tahu.”

“Aku bahkan belum melanjutkan bicaraku.”

“Percayalah. Aku tahu.”

Maka berbincanglah kami sembari menyeruput kopi panas sore itu. Bercerita soal segala yang menarik diperbincangkan sore-sore. Hangat sinar mentari menari menemani kami. Kopiku sudah tinggal ampas. Kopinya masih penuh. Bertanyalah aku “Bagaimana bisa, kopimu masih penuh?”

“Lupakah Nona?”

“Apa?”

“Waktunya pulang, hari sudah akan gelap. Sudah dua jam lebih Nona duduk di sini sendirian.”

“Oh, Mas Budi.”

Duduk ia di tempat pria berkacamata bulat itu duduk. “Golek seng nyatane kapan Mbak?” ia menyeruput kopi milik pria berkacamata bulat itu juga.

Sampeyan aja, gelem ra?” kutatap ia tanpa canggung.

Gelem ra?” ulangnya.

“Mau atau tidak?”

“Bukan. Ini disuruh memilih?”

“Iya.”

“Dengar ... saya hanya mengenal kata ‘gelem’ untuk Nona.”

Oh, bunga kembali bermekaran di hati merahku. Kali ini terasa menyesakkan. Sesak manis. Haha, aku tertawa lepas. Ia menyeruput habis kopinya. Kopi miliknya. Setelahnya ia temani aku tertawa sampai datang lembayung senja yang kemerah-merahan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Galas

             G alas namanya, seorang anak laki-laki yang kurang tampan, potongan rambutnya sepundak mirip perempuan, benar-benar lurus tanpa maskulinitas sama sekali. Dia suka dengarkan suara detik jam, seolah itu menuntunnya untuk tetap percaya bahwa akhir tidak selalu membosankan untuk ditunggu.        Galas masih Galas, saat ini dia sedang duduk antara pukul sembilan dan pukul sepuluh, posisi duduknya terlihat memiliki kemampuan mengganggu siapa saja yang melihatnya, posisi kakinya tidak sempurna, kaki kiri diluruskan agak menyerong ke kanan, kaki kanannya ditekuk keluar hampir membentuk V sempurna. Tangannya terlihat acuh, hanya dibiarkan diam menyentuh lantai, seperti kain pel yang sedang dikeringkan. Matanya melirik, kiri-kanan-kiri-kanan, dia berhenti di kanan, tangannya masih acuh.       “Galas sang pendamba harimau, mau makan apa ya hari ini, tikus tidak enak, pesing. Kuku-kuku kucing buat Galas saja, mau pe...

Jamuan

        Awalnya memang hitam dan putih, tapi kemudian berubah menjadi abu-abu. Kadang kamu berpikir soal kenapa harus bercampur yang hitam dan putih itu. Mungkin memang harus begitu. Atau sesuatu telah menjadi penyebab bercampurnya kedua warna itu. Segalanya memang masih berupa prasangka, prasangka yang kadang membuat pikiranmu berputar 180˚. Entah karena kamu memaksanya untuk berputar sejauh itu ataupun karena memang dia memiliki kehendak juga.        Seseorang di masa lalumu pernah berkata “pikiran itu punya nyawa”. Itu sebabnya orang bilang sulit mengontrol pikiran, ada-ada saja yang jadi bahan fokusnya (pikiran) itu. Ketika tidur biasanya juga menjadi sulit. Pikiran selalu tidak mau mengalah tidur duluan. Selalu harus mata yang mengawalinya. Kamu mulai berpikir soal sang mata sekarang.        Kenapa mata harus mengalah tidur duluan. Apakah mata lebih santun daripada pikiran. Siapa yang mengajarkannya untuk santun seperti it...

Jarak

            Ibu memarahimu kemarin, sampai sekarang kamu masih marah sedangkan aku sibuk membersihkan rumah, karena merajuk kamu enggan membantu pekerjaan rumah. Sebenarnya aku sangat tidak menyukai tingkahmu yang semacam itu, kekanakan sekali.             Hari ini pun aku yang membersihkan rumah, semuanya. Karena ibu sedang sakit jadi beliau hanya dapat berbaring di tempat tidur dan melakukan gerakan-gerakan ringan seperti duduk, mengambil teh di meja samping ranjang, menjatuhkan sendok, dan hal lainnya yang kulupa.             Di sela pekerjaanku yang melelahkan, aku ingin menatap wajahmu sebentar untuk bertanya. Kuketuk pintu kamarmu, tidak ada jawaban, kupikir kamu juga marah padaku karena aku kesayangan ibu jadi aku putuskan untuk masuk saja tanpa perlu izinmu. Kamarmu gelap, kamarmu memang minim fentila...